Liga Inggris atau Premier League telah lama menjadi magnet utama bagi para pesepak bola top dari berbagai belahan dunia. Kompetisi ini terus mengukuhkan posisinya sebagai liga paling kompetitif dan terbaik di jagat raya.
Meskipun banyak pemain bintang yang datang dan meraih kesuksesan besar di sana, ternyata tidak semua nama besar berjaya di Inggris. Sejumlah pemain justru baru bisa mengeluarkan potensi maksimal dan mencapai level permainan baru setelah memutuskan untuk angkat kaki dari tanah Britania.
Michael Olise menjadi contoh paling mutakhir dari fenomena pemain yang performanya melonjak drastis setelah meninggalkan Premier League. Tren ini sebenarnya sudah terjadi selama bertahun-tahun, di mana kepindahan ke liga lain sering kali menjadi titik balik karier seorang pemain.
Daftar Pemain yang Bersinar Usai Meninggalkan Liga Inggris
Berikut adalah rangkuman mengenai 10 pesepak bola yang berhasil mencapai puncak performa mereka setelah keluar dari kompetisi Premier League:
| Nama Pemain | Klub Inggris Terakhir | Klub Tujuan (Puncak Karier) |
|---|---|---|
| Scott McTominay | Manchester United | Napoli |
| Gerard Pique | Manchester United | Barcelona |
| Michael Olise | Crystal Palace | Bayern Munchen |
| Gareth Bale | Tottenham Hotspur | Real Madrid |
| Chris Smalling | Manchester United | AS Roma |
| Memphis Depay | Manchester United | Lyon / Barcelona |
| Cristiano Ronaldo | Manchester United | Real Madrid |
| Romelu Lukaku | Manchester United | Inter Milan |
| Jadon Sancho | Manchester City (Akademi) | Borussia Dortmund |
| Diego Forlan | Manchester United | Villarreal / Atletico Madrid |
Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas pemain yang justru sukses di luar Inggris merupakan mantan penggawa Manchester United yang sempat kesulitan bersinar di Old Trafford.
1. Scott McTominay
Jika kita melihat dampak budaya yang diberikan pemain kepada klub barunya, Scott McTominay mungkin bisa disebut sebagai komoditas ekspor terbaik Inggris. Pindah ke Napoli terbukti mampu menghidupkan kembali nyala karier gelandang asal Skotlandia ini.
Sebelumnya, McTominay sempat diprediksi akan menjadi pemain yang terlupakan setelah bertahun-tahun berada dalam bayang-bayang di Manchester United. Namun, di kota Naples, ia justru bertransformasi menjadi bintang utama dan sosok tak tergantikan.
McTominay memiliki peran krusial dalam keberhasilan Napoli mengamankan gelar liga pada musim lalu. Kehormatannya bahkan setara legenda, dengan mural wajahnya yang dilukis di jalanan kota, bersandingan dengan sosok ikonik Diego Maradona.
2. Gerard Pique
Gerard Pique memang sudah diprediksi akan kembali ke Barcelona sejak masih menimba ilmu di Manchester United. Ketika kepindahan itu terjadi pada 2008, ia berkembang pesat menjadi salah satu bek tengah terbaik dengan kemampuan olah bola luar biasa.
Pique merupakan pilar utama saat Barcelona mendominasi dunia dengan raihan sembilan gelar liga dan tiga trofi Liga Champions. Meski pengalamannya di Inggris membantu mengasah mental, level permainannya benar-benar mencapai titik tertinggi di Catalonia.
3. Michael Olise
Saat masih memperkuat Crystal Palace bersama Eberechi Eze, bakat Michael Olise memang sudah terlihat sangat menjanjikan. Namun, potensinya baru benar-benar meledak setelah ia memutuskan bergabung dengan raksasa Jerman, Bayern Munchen.
Statistik membuktikan bahwa jumlah assist yang dibuat Olise dalam dua tahun terakhir melampaui pemain mana pun di lima liga top Eropa. Ia kini bahkan difavoritkan untuk memecahkan rekor assist terbanyak dalam semusim Bundesliga milik Thomas Muller.
4. Gareth Bale
Gareth Bale sempat menyabet dua gelar PFA Player of the Year sebelum akhirnya dipinang Real Madrid dengan nilai transfer fantastis pada 2013. Di Tottenham, ia adalah pusat permainan, namun di Madrid ia harus beradaptasi menjadi pendamping Cristiano Ronaldo.
Walau berada di bawah bayang-bayang Ronaldo, Bale tetap mampu menunjukkan kualitas dunianya, termasuk mencetak gol ikonik di final Liga Champions 2014. Meski hubungannya dengan fans Madrid sering pasang surut, prestasi empat gelar Liga Champions menjadi bukti sahih kualitasnya.
5. Chris Smalling
Sebelum langkah McTominay, Chris Smalling lebih dulu membuktikan bahwa Italia adalah tempat yang tepat untuk bangkit. Bek asal Inggris ini awalnya pindah ke AS Roma dengan status pinjaman karena tidak masuk dalam skema utama Manchester United.
Karakter permainan Smalling ternyata sangat serasi dengan atmosfer taktis Serie A, sehingga ia pun segera mendapatkan kontrak permanen. Ia sukses mencatatkan lebih dari 100 penampilan bagi Giallorossi dan mempersembahkan trofi UEFA Conference League pada 2022.
6. Memphis Depay
Petualangan Memphis Depay di Manchester United bisa dikatakan sebagai periode yang cukup suram bagi penyerang asal Belanda tersebut. Ia kemudian memutuskan untuk menata ulang kariernya bersama klub Prancis, Olympique Lyonnais.
Keputusan tersebut sangat tepat, karena Depay mampu mencetak 76 gol dan 56 assist selama membela Lyon. Ketajamannya di Prancis itulah yang akhirnya membuka pintu baginya untuk bergabung dengan Barcelona, sebuah pencapaian yang sempat dianggap mustahil.
7. Cristiano Ronaldo
Saat meninggalkan Manchester United pada 2009, Cristiano Ronaldo sebenarnya sudah menyandang status sebagai pemenang Ballon d'Or. Namun, level permainannya meroket ke tingkat yang hampir tidak manusiawi saat ia berseragam Real Madrid.
Ronaldo mencatatkan statistik fenomenal dengan 450 gol dari 438 laga serta meraih empat trofi Ballon d'Or tambahan di Spanyol. Lingkungan di Madrid tampaknya menjadi katalis sempurna bagi ambisinya untuk menjadi salah satu pemain terbaik sepanjang masa.
8. Romelu Lukaku
Banyak pelatih di Liga Inggris percaya bahwa Romelu Lukaku memiliki semua syarat fisik untuk menjadi striker mematikan. Namun, performa terbaiknya di Inggris justru terjadi saat ia membela tim seperti West Brom dan Everton, bukan di klub besar seperti Manchester United.
Titik balik karier Lukaku terjadi saat ia dilatih Antonio Conte di Inter Milan, di mana ia bertransformasi menjadi salah satu penyerang paling ditakuti. Hal inilah yang sempat membuat Chelsea rela merogoh kocek sangat dalam untuk memulangkannya kembali ke London.
9. Jadon Sancho
Sadar sulit menembus tim utama Manchester City yang penuh bintang, Jadon Sancho mengambil langkah berani dengan pindah ke Borussia Dortmund. Di Bundesliga, ia berkembang menjadi salah satu pemain sayap paling kreatif dan berbahaya di dunia.
Sayangnya, setelah kembali ke Inggris untuk membela Manchester United, performa Sancho justru meredup drastis. Saat ini ia sedang mencoba menemukan kembali sentuhan terbaiknya di Aston Villa, meski level permainannya masih jauh dari saat ia berada di Jerman.
10. Diego Forlan
Sir Alex Ferguson dikenal cukup sabar memberikan kesempatan bagi Diego Forlan di Manchester United meskipun sang striker sering kesulitan mencetak gol. Catatan 17 gol dari 98 laga dianggap sebagai anomali bagi penyerang berbakat asal Uruguay tersebut.
Ketajaman Forlan baru benar-benar muncul kembali setelah ia hengkang ke Spanyol untuk membela Villarreal. Puncak kejayaannya terjadi saat ia pindah ke Atletico Madrid, di mana ia bertransformasi menjadi mesin gol yang mematikan dan memenangkan berbagai penghargaan individu.