Kemenangan dramatis tim nasional Argentina atas Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 menyisakan perdebatan panjang. Keberhasilan Tim Tango melaju ke perempat final dibayangi oleh serangkaian keputusan Video Assistant Referee (VAR) yang dianggap kontroversial.
Fokus utama perdebatan publik tertuju pada dianulirnya gol milik pemain Mesir, Mostafa Zico. Keputusan tersebut dinilai tidak sejalan dengan standar kepemimpinan wasit yang diterapkan sejak awal turnamen berlangsung.
Standar Kontak Fisik yang Dipertanyakan
Sebelum memasuki fase gugur, Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, sempat memberikan instruksi khusus kepada para pengadil lapangan. Ia meminta wasit untuk membiarkan kontak fisik yang wajar demi menjaga ritme dan tempo permainan tetap mengalir.
Data menunjukkan adanya pergeseran gaya kepemimpinan wasit pada edisi kali ini dibandingkan turnamen sebelumnya. Hal ini terlihat dari penurunan statistik pelanggaran yang ditiup oleh wasit di lapangan.
Berikut adalah rincian penurunan rata-rata jumlah pelanggaran per pertandingan menurut data BBC:
- Piala Dunia 2018: Mencatatkan rata-rata 27 pelanggaran di setiap laga.
- Piala Dunia 2022: Angka pelanggaran menurun menjadi 25 kali per pertandingan.
- Piala Dunia 2026: Rata-rata tiupan peluit wasit berkurang signifikan menjadi 22,6 per laga.
Statistik di atas membuktikan bahwa FIFA sebenarnya mengarahkan wasit untuk lebih toleran terhadap kontak antar pemain. Namun, dianulirnya gol indah Mostafa Zico justru memperlihatkan pendekatan yang berbeda dan memicu tanda tanya besar.
Kronologi Insiden Dianulirnya Gol Mesir
Dalam proses terjadinya gol tersebut, pemain Mesir bernama Attia dianggap melakukan tarikan tipis pada jersey pemain Argentina. Selain itu, ia dinilai sempat menginjak kaki lawan sesaat sebelum bola bersarang di dalam gawang.
Secara aturan teknis, tindakan Attia memang dapat dikategorikan sebagai sebuah pelanggaran. Namun, para pengamat menilai keputusan VAR mengintervensi kejadian tersebut tidak konsisten dengan standar toleransi fisik selama ini.
Ketidakkonsistenan ini semakin terlihat jika dibandingkan dengan beberapa insiden pada pertandingan lain di turnamen yang sama. Salah satu contoh nyata adalah gol Leroy Sane yang tetap disahkan meski terjadi kontak fisik sebelumnya.
Perbandingan insiden yang memicu kritik terhadap konsistensi VAR:
| Pertandingan | Jenis Insiden | Keputusan Akhir |
|---|---|---|
| Argentina vs Mesir | Tarikan jersey tipis oleh Attia | Gol Dianulir lewat VAR |
| Jerman (Sane) | Kepala Pedro Vite terkena kontak Pavlovic | Gol Disahkan tanpa VAR |
Tabel di atas merangkum bagaimana dua kejadian serupa mendapatkan perlakuan yang berbeda dari perangkat pertandingan. Hal inilah yang memicu kekecewaan pendukung Mesir dan pecinta sepak bola dunia karena standar ganda yang terlihat.
Meskipun pelanggaran terjadi sekitar 17 detik sebelum gol tercipta, secara regulasi VAR tetap memiliki wewenang penuh untuk melakukan intervensi. Namun, perdebatan mengenai apakah insiden itu cukup kuat untuk membatalkan gol masih terus bergulir di media sosial.
Kontroversi ini menambah daftar panjang drama di Piala Dunia 2026, terutama yang berkaitan dengan tim juara bertahan. Publik kini menunggu bagaimana FIFA menanggapi kritik terkait konsistensi penerapan teknologi asisten wasit video tersebut.