Langkah tim nasional Brasil di Piala Dunia 2026 harus terhenti lebih awal setelah mereka resmi angkat koper dari turnamen bergengsi tersebut. Kegagalan ini menyisakan luka mendalam bagi publik sepak bola Brasil yang menaruh harapan besar.
Kekalahan menyakitkan dari Norwegia di babak 16 besar membuat tim berjuluk Selecao itu langsung dihujani kritik tajam. Media lokal Brasil tidak segan-segan merujak penampilan skuad asuhan Carlo Ancelotti yang dianggap mengecewakan.
Brasil Tumbang di Tangan Norwegia
Pertandingan hidup mati yang berlangsung di MetLife Stadium pada Senin (6/7) dini hari WIB itu menjadi saksi runtuhnya pertahanan Brasil. Tim Samba dipaksa menyerah dengan skor tipis 1-2 dalam duel yang sangat kompetitif.
Erling Haaland menjadi momok menakutkan bagi lini belakang Brasil dengan memborong dua gol kemenangan untuk Norwegia. Sementara itu, satu-satunya gol balasan Brasil tercipta melalui eksekusi penalti sang mega bintang, Neymar.
Hasil negatif ini memperpanjang catatan buruk Brasil yang terus gagal melaju ke babak krusial Piala Dunia sejak terakhir kali menjadi juara pada tahun 2002. Kekecewaan publik pun meledak karena puasa gelar juara dunia kini dipastikan akan terus berlanjut.
Media-media besar di Brasil secara serentak melontarkan kecaman pedas atas hasil yang sangat tidak diharapkan ini. Kekalahan dari Norwegia dipandang sebagai titik terendah dari perjalanan mereka di Amerika Serikat.
Berbagai media massa Brasil menggunakan judul berita yang sangat menyentil kondisi tim nasional mereka saat ini:
- "Haaland menghancurkan tim Brasil yang tak lagi dikenali di lapangan."
- "Akhir dari mimpi besar Selecao."
- "Puasa gelar juara dunia masih berlanjut."
- "Mimpi meraih trofi keenam kini sirna."
- "Keputusan-keputusan keliru yang diambil oleh CBF."
Rangkaian tajuk utama tersebut mencerminkan betapa frustrasinya masyarakat Brasil melihat performa tim kesayangan mereka. Kritik tidak hanya tertuju pada teknis permainan, tetapi juga merembet ke manajemen organisasi sepak bola mereka.
Kritik Pedas Terhadap Federasi dan Carlo Ancelotti
Media ternama O Globo secara khusus menyoroti bobroknya pengelolaan federasi sepak bola Brasil (CBF) dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menilai seringnya pergantian pelatih menjadi penyebab utama tidak konsistennya performa tim.
Statistik menunjukkan bahwa sejak era Ramon Menezes hingga Carlo Ancelotti, Brasil telah dipimpin oleh empat pelatih berbeda. Ketidakstabilan posisi pelatih ini diyakini membuat filosofi permainan tim tidak pernah matang.
Selain masalah kepemimpinan, kebijakan pemanggilan pemain juga tak luput dari sorotan tajam. Tercatat ada 96 pemain berbeda yang dipanggil masuk ke tim nasional dalam periode singkat, sebuah angka yang dianggap terlalu besar.
Banyaknya pergantian pemain ini membuat tim sulit menemukan kekompakan dan kerangka skuad yang solid di turnamen besar. Akibatnya, kinerja tim di lapangan hijau terus mengalami penurunan drastis dari waktu ke waktu.
Bruno Guimaraes Jadi Sasaran Empuk
Di level individu, Bruno Guimaraes menjadi salah satu pemain yang paling banyak menerima hujatan. Penampilannya saat melawan Norwegia dinilai sebagai titik nadir kariernya bersama tim nasional.
Pemain asal Newcastle United tersebut dikritik habis-habisan karena gagal menjalankan tugasnya dengan baik, termasuk kegagalan mengeksekusi penalti. O Globo menyebut performa Guimaraes di laga tersebut adalah yang terburuk sepanjang keikutsertaannya di Piala Dunia.
Bahkan, kesalahan Guimaraes sudah terlihat jauh sebelum momen penalti yang gagal di awal pertandingan. Ia tercatat melakukan kesalahan fatal saat mencoba mengalihkan serangan yang nyaris berujung pada gol untuk Norwegia sebelum dianulir.
Statistik juga menunjukkan minimnya kontribusi Guimaraes dalam membangun serangan tim di sepertiga akhir lapangan. Ia tercatat hanya mampu melakukan 15 umpan sukses di area krusial tersebut, sebuah angka yang sangat minim untuk pemain sekaliber dirinya.
Statistik performa mengecewakan Bruno Guimaraes dalam laga tersebut dapat dirangkum sebagai berikut:
- Gagal mengeksekusi penalti krusial di awal laga.
- Melakukan kesalahan fatal dalam transisi bertahan yang berujung ancaman gol.
- Sangat minim dalam penguasaan bola selama pertandingan berlangsung.
- Hanya mencatatkan 15 umpan di sepertiga lapangan area serang.
Kini, Brasil harus menerima kenyataan pahit untuk segera pulang dan meratapi kegagalan mereka sekali lagi. Sementara itu, Norwegia yang tampil perkasa berhak melaju ke babak 8 besar untuk menantang Inggris.
Berikut adalah rangkuman jadwal babak gugur serta klasemen akhir fase grup yang menunjukkan posisi Brasil sebelum akhirnya tersingkir di babak 16 besar.
Jadwal pertandingan sisa babak 16 besar dan perempat final yang akan segera berlangsung:
| Babak | Pertandingan | Waktu (WIB) |
|---|---|---|
| Round of 16 | Portugal vs Spanyol | 07 Jul - 02:00 |
| Round of 16 | Amerika Serikat vs Belgia | 07 Jul - 07:00 |
| Round of 16 | Argentina vs Mesir | 07 Jul - 23:00 |
| Round of 16 | Swiss vs Kolombia | 08 Jul - 03:00 |
| Quarter Final | Prancis vs Maroko | 10 Jul - 03:00 |
| Quarter Final | Norwegia vs Inggris | 12 Jul - 04:00 |
Tabel di atas menyajikan jadwal pertandingan seru yang akan menentukan siapa yang akan melaju hingga partai puncak. Norwegia kini menatap laga berat melawan Inggris setelah berhasil menumbangkan raksasa Amerika Selatan.
Klasemen Grup C tempat Brasil menduduki posisi puncak sebelum tersingkir:
| Pos | Tim | Main | Menang | Seri | Kalah | Poin |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Brasil | 3 | 2 | 1 | 0 | 7 |
| 2 | Maroko | 3 | 2 | 1 | 0 | 7 |
| 3 | Skotlandia | 3 | 1 | 0 | 2 | 3 |
| 4 | Haiti | 3 | 0 | 0 | 3 | 0 |
Data klasemen menunjukkan bahwa Brasil sebenarnya tampil cukup meyakinkan di fase grup dengan status sebagai juara grup. Namun, performa apik tersebut seolah hilang tanpa bekas saat mereka berhadapan dengan kedisiplinan pemain Norwegia di babak gugur.
Piala Dunia 2026 terus berlanjut tanpa kehadiran tim tersukses dalam sejarah turnamen ini. Kegagalan ini dipastikan akan memicu evaluasi besar-besaran di tubuh sepak bola Brasil demi mengembalikan kejayaan mereka di masa depan.