Finis Peringkat 17, Mengapa Tottenham Masih Jorjoran di Bursa Transfer 2026? Ini Alasannya

Finis Peringkat 17, Mengapa Tottenham Masih Jorjoran di Bursa Transfer 2026? Ini Alasannya

Tottenham Hotspur tampil sebagai salah satu klub paling menonjol dan agresif di bursa transfer musim panas 2026. Langkah ini tergolong mengejutkan mengingat performa mereka yang sangat mengecewakan pada musim kompetisi 2025/2026 yang lalu.

Klub asal London Utara tersebut baru saja menyudahi musim di peringkat ke-17 klasemen Premier League. Posisi tersebut sangat riskan karena mereka hanya memiliki selisih dua poin saja dari jurang degradasi.

Kondisi ini memicu kebingungan dan pertanyaan besar di tengah para pencinta sepak bola dunia. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana tim yang hampir turun kasta masih sanggup mengeluarkan dana fantastis untuk belanja pemain bintang.

Hingga saat ini, Tottenham tercatat telah mengamankan tanda tangan beberapa pemain kelas dunia untuk memperkuat tim. Sandro Tonali menjadi nama terbaru yang merapat setelah klub sebelumnya sukses memboyong Mateus Fernandes dari West Ham United.

Transfer Mateus Fernandes sendiri diperkirakan menyentuh angka Rp1,87 triliun atau sekitar 85 juta poundsterling. Sementara itu, pemain berpengalaman seperti Andy Robertson dan Marcos Senesi didatangkan secara cuma-cuma alias gratis.

Ambisi Spurs tidak berhenti sampai di situ karena mereka juga sedang mengincar tanda tangan Jan Paul van Hecke. Jika transfer ini terwujud, total belanja Tottenham diprediksi menembus angka Rp5,21 triliun atau setara 237 juta poundsterling.

Walaupun nominal belanja tersebut terlihat sangat besar, aktivitas transfer Spurs nyatanya tetap mematuhi regulasi keuangan. Terdapat alasan logis mengapa mereka masih memiliki kemampuan finansial yang sangat sehat di tengah keterpurukan prestasi.

Memahami Aturan SCR dan Kekuatan Finansial Spurs

Kunci dari agresivitas Tottenham di pasar transfer terletak pada implementasi aturan baru yang disebut Squad Cost Ratio (SCR). Regulasi ini memberikan fleksibilitas bagi klub untuk mengelola keuangan mereka secara lebih dinamis.

Berdasarkan aturan SCR, sebuah klub diperbolehkan mengalokasikan hingga 85 persen dari total pendapatan mereka untuk urusan skuad. Hal ini mencakup pembayaran gaji pemain, biaya agen, hingga proses amortisasi nilai transfer pemain ke dalam laporan tahunan.

Data dari laporan keuangan musim 2024/2025 menunjukkan bahwa beban pengeluaran skuad Tottenham baru mencapai angka 61 persen. Persentase tersebut masih berada jauh di bawah batas maksimal yang ditetapkan oleh otoritas liga.

Selisih persentase yang lebar inilah yang dimanfaatkan oleh manajemen klub sebagai ruang finansial untuk berinvestasi. Dengan demikian, mereka memiliki keleluasaan untuk mendatangkan pemain baru tanpa takut melanggar aturan keuangan yang ada.

Keberhasilan finansial Spurs juga sangat dipengaruhi oleh optimalisasi stadion baru mereka sebagai mesin pencetak uang. Stadion canggih tersebut tidak hanya digunakan untuk menggelar pertandingan sepak bola semata.

Saat ini, stadion Tottenham mampu menyelenggarakan hingga 30 acara non-sepak bola dalam satu kalender tahunan. Acara-acara tersebut meliputi konser musik skala besar hingga pertandingan liga sepak bola Amerika (NFL).

Berikut adalah rincian perbandingan lonjakan pendapatan yang berhasil diraih oleh Tottenham Hotspur :

Kategori Pendapatan Era White Hart Lane (Lama) Musim 2024/2025 (Baru)
Pendapatan Matchday Rp990 Miliar (£45 Juta) Rp2,77 Triliun (£126 Juta)
Pendapatan Komersial Rp1,61 Triliun (£73 Juta) Rp6,09 Triliun (£277 Juta)

Data di atas memperlihatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat signifikan sejak mereka pindah ke stadion baru. Kenaikan pemasukan komersial yang mencapai lebih dari tiga kali lipat menjadi fondasi utama kekuatan ekonomi mereka saat ini.

Mekanisme Amortisasi dan Manajemen Anggaran Klub

Besarnya pengeluaran transfer yang dilakukan Spurs sebenarnya tidak langsung dibebankan secara utuh dalam satu laporan musim. Dalam dunia akuntansi sepak bola, terdapat sistem amortisasi untuk meratakan biaya transfer pemain.

Biaya transfer akan dibagi rata selama durasi kontrak sang pemain, dengan batas maksimal pembagian selama lima tahun. Strategi ini memungkinkan klub untuk menjaga stabilitas laporan keuangan tahunan mereka meski belanja besar.

Sebagai contoh, jika Tottenham menghabiskan Rp5,28 triliun (£240 juta) di bursa transfer kali ini, beban yang tercatat tidak sebesar itu. Apabila semua pemain dikontrak selama lima tahun, beban tahunannya hanya sekitar Rp1,06 triliun (£48 juta).

Pada periode laporan keuangan 2024/2025, Tottenham tercatat berhasil membukukan total pendapatan sekitar Rp14,84 triliun atau £565 juta. Angka pendapatan yang masif ini memberikan batas belanja yang sangat luas bagi manajemen klub.

Sesuai ketentuan SCR, Tottenham secara matematis diperbolehkan menggunakan anggaran hingga Rp12,60 triliun (£480 juta) per musim. Anggaran tersebut dialokasikan untuk seluruh kebutuhan skuad, mulai dari operasional hingga gaji bintang baru.

Integrasi antara pendapatan komersial yang tinggi dan pemanfaatan aset stadion membuat posisi keuangan Spurs sangat kokoh. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kegagalan di lapangan hijau tidak serta-merta membuat kantong klub menipis.

Kombinasi faktor-faktor finansial tersebut memastikan Tottenham tetap menjadi pemain utama di bursa transfer. Meski mereka sempat terpuruk di peringkat ke-17, fondasi ekonomi yang kuat tetap memungkinkan Spurs untuk melakukan perombakan skuad besar-besaran.

Artikel terkait