Ketegangan diplomatik muncul antara Amerika Serikat dan Inggris di tengah kemeriahan ajang Piala Dunia 2026. Gedung Putih melontarkan tuduhan serius kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, terkait keselaman penonton.
Starmer dianggap telah membahayakan nyawa banyak orang setelah melakukan intervensi terhadap jadwal pertandingan. Campur tangan ini berkaitan dengan laga babak 16 besar yang mempertemukan Meksiko dan Inggris.
Intervensi Jadwal Pertandingan di Stadion Azteca
Awalnya, FIFA berencana memajukan waktu kick-off laga tersebut yang digelar di Stadion Azteca. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman badai petir yang diprediksi akan terjadi.
Namun, rencana perubahan jadwal tersebut mendapat penolakan keras dari federasi sepak bola Inggris maupun Meksiko. Starmer dikabarkan turut menggunakan jalur diplomatik untuk menekan FIFA agar jadwal tetap sesuai rencana awal.
Tindakan Starmer ini membuat pihak Gedung Putih meradang karena dianggap melampaui wewenang penyelenggara. Andrew Giuliani, selaku Direktur Eksekutif Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia 2026, memberikan kritik tajam.
Berikut adalah beberapa poin keberatan yang disampaikan oleh pihak Gedung Putih:
- Intervensi politik dianggap tidak pantas karena FIFA dan tuan rumah memiliki otoritas penuh atas aspek teknis.
- Adanya risiko keselamatan yang nyata bagi penonton dan warga lokal akibat cuaca ekstrem.
- Evaluasi dari kejadian sebelumnya di babak 32 besar yang sempat memakan korban jiwa saat perayaan berlangsung.
Giuliani menegaskan bahwa pergeseran waktu dari malam ke siang hari bertujuan untuk meminimalkan risiko kematian bagi warga Meksiko. Menurutnya, konsekuensi dari intervensi Starmer sangat serius jika potensi bencana benar-benar terjadi.
Kontroversi Intervensi dari Kedua Belah Pihak
Meskipun mengkritik Inggris, posisi Amerika Serikat sendiri tidak lepas dari sorotan publik. Pasalnya, Presiden Donald Trump juga dilaporkan melakukan intervensi serupa terhadap aturan teknis FIFA.
Trump mengakui telah menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara langsung melalui sambungan telepon. Komunikasi tersebut dilakukan untuk membahas kartu merah yang diterima oleh pemain AS, Folarin Balogun.
Ringkasan mengenai dua bentuk intervensi yang menjadi perdebatan saat ini:
| Pihak yang Terlibat | Bentuk Intervensi | Tujuan/Alasan |
|---|---|---|
| PM Keir Starmer (Inggris) | Menolak perubahan jadwal pertandingan | Mempertahankan waktu kick-off meski ada ancaman badai. |
| Presiden Donald Trump (AS) | Menghubungi Presiden FIFA terkait sanksi pemain | Meminta peninjauan ulang kartu merah Folarin Balogun. |
Hasil dari komunikasi Trump tersebut membuahkan hasil yang cukup mengejutkan bagi banyak pihak. Komite Disiplin FIFA akhirnya memutuskan untuk menunda larangan bertanding bagi Balogun selama satu tahun.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kepentingan politik mulai masuk ke dalam ranah teknis sepak bola internasional. Hingga saat ini, perdebatan mengenai batas kewenangan pemimpin negara dalam turnamen FIFA terus menjadi perbincangan hangat.