Dunia sepak bola Palestina kembali diselimuti awan duka yang mendalam setelah penjaga gawang Saleem Al-Ashqar dikabarkan meninggal dunia. Kabar tragis mengenai berpulangnya sang kiper di Jalur Gaza ini telah dikonfirmasi secara resmi oleh pihak berwenang setempat.
Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) merilis pernyataan resmi pada pekan ini untuk mengumumkan kepergian salah satu talenta terbaiknya tersebut. PFA mengungkapkan bahwa Al-Ashqar kehilangan nyawanya di tengah konflik bersenjata yang masih terus berkecamuk di wilayah tersebut.
Kronologi dan Penyebab Meninggalnya Saleem Al-Ashqar
Berdasarkan keterangan resmi dari PFA, Saleem Al-Ashqar mengembuskan napas terakhirnya akibat tembakan yang dilepaskan oleh pasukan Israel. Insiden mematikan tersebut terjadi saat wilayah Gaza masih berada dalam situasi konflik yang sangat mencekam.
Sebagaimana diketahui, sejak 7 Oktober 2023, operasi militer ekstensif telah dilancarkan oleh pasukan Israel di kawasan Jalur Gaza. Operasi tersebut memicu berbagai krisis kemanusiaan yang sangat berat bagi penduduk sipil di wilayah tersebut.
Dampak dari konflik ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menyebabkan kelaparan, penghancuran tempat tinggal, hingga pengungsian massal. Penangkapan warga sipil secara besar-besaran juga menjadi bagian dari dampak buruk situasi yang berlangsung selama berbulan-bulan ini.
Melansir laporan dari Middle East Monitor, PFA menegaskan bahwa Al-Ashqar merupakan satu dari sekian banyak figur olahraga yang menjadi korban. Dunia olahraga Palestina benar-benar terpukul dengan kehilangan yang terus berulang sejak pecahnya konflik bersenjata.
PFA juga membagikan data statistik yang mencengangkan mengenai dampak konflik terhadap komunitas olahraga di negara tersebut. Menurut catatan mereka, sudah lebih dari 1.000 atlet asal Palestina yang dinyatakan gugur selama periode peperangan ini.
Saleem Al-Ashqar sendiri meninggal dunia pada usia yang tergolong masih sangat produktif, yakni 32 tahun. Kepergiannya meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi keluarga kecil yang baru saja ia bangun beberapa waktu lalu.
Fakta menyedihkan terungkap bahwa Al-Ashqar diketahui baru saja melangsungkan pernikahan sekitar lima bulan yang lalu. Saat ini, sang istri dikabarkan sedang mengandung buah hati pertama mereka yang harus lahir tanpa kehadiran sosok ayah.
Simpati Internasional dan Dukungan dari Berbagai Pihak
Berita duka mengenai kematian Al-Ashqar segera memicu gelombang simpati yang luas dari berbagai belahan dunia. Ucapan belasungkawa terus mengalir dari rekan satu tim, keluarga besar, hingga komunitas olahraga internasional yang merasa kehilangan.
Salah satu bentuk dukungan nyata terlihat dalam pertandingan persahabatan antara tim pemain Palestina melawan kelompok pemain dari wilayah Basque di Bilbao, Spanyol. Laga yang digelar pada 15 November 2025 tersebut menjadi ajang protes terhadap aksi militer yang terjadi di Gaza.
Ribuan pendukung dalam pertandingan tersebut tampak mengibarkan bendera Palestina bersama dengan bendera wilayah Basque Utara sebagai bentuk solidaritas. Sebelum laga dimulai, massa juga melakukan demonstrasi besar di jalanan kota Bilbao untuk meneriakkan dukungan bagi kemerdekaan Palestina.
Klub sepak bola asal Chile, Deportivo Palestino, juga tidak ketinggalan menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas insiden ini. Klub yang berbasis di Amerika Selatan ini memang dikenal memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan masyarakat Palestina.
Pernyataan resmi belasungkawa dari klub Deportivo Palestino melalui akun media sosial mereka pada Rabu (1/7/2026):
- Menyatakan duka yang sangat mendalam atas kepergian penjaga gawang Salim Al-Ashqar yang tewas secara tragis oleh tentara Israel.
- Menegaskan rasa sedih yang luar biasa atas terus berlanjutnya peristiwa kekerasan yang menimpa para atlet di Palestina.
- Menyampaikan seruan yang kuat kepada dunia internasional untuk segera mewujudkan keadilan dan perdamaian di wilayah tersebut.
- Menunjukkan solidaritas tanpa henti sebagai klub yang memiliki akar historis dengan komunitas keturunan Palestina di Chile.
Klub yang memiliki julukan Arabes ini memang secara rutin menyuarakan keprihatinan mereka terhadap isu-isu kemanusiaan di tanah leluhur mereka. Bagi Deportivo Palestino, kepergian Al-Ashqar bukan sekadar berita duka sepak bola, melainkan tragedi kemanusiaan yang harus dihentikan.
Daftar Korban Olahraga yang Terus Bertambah
Hingga saat ini, Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencana prosesi pemakaman mendiang Al-Ashqar. Situasi di lapangan yang masih sangat dinamis menjadi salah satu kendala dalam memberikan informasi detail terkait hal tersebut.
Meskipun demikian, PFA berkomitmen untuk terus melakukan dokumentasi menyeluruh terhadap setiap dampak yang ditimbulkan oleh konflik ini. Mereka mencatat setiap kerusakan fasilitas olahraga hingga hilangnya nyawa para atlet dan ofisial selama peperangan berlangsung.
Meninggalnya Saleem Al-Ashqar secara otomatis menambah panjang daftar insan olahraga Palestina yang harus kehilangan nyawa akibat konflik berkepanjangan. Kejadian ini kembali membuka mata dunia mengenai betapa rentannya posisi warga sipil dan atlet di tengah zona perang.
Berikut adalah ringkasan informasi terkait sosok Saleem Al-Ashqar dan situasi yang melatarbelakangi kepergiannya:
| Kategori Informasi | Detail Informasi |
|---|---|
| Nama Lengkap | Saleem Al-Ashqar |
| Usia Saat Wafat | 32 Tahun |
| Posisi Bermain | Penjaga Gawang (Kiper) |
| Penyebab Kematian | Tembakan pasukan militer di Gaza |
| Status Keluarga | Menikah 5 bulan lalu, istri sedang hamil anak pertama |
| Total Korban Atlet | Lebih dari 1.000 orang sejak Oktober 2023 |
Data di atas menunjukkan betapa besarnya kehilangan yang dialami oleh dunia olahraga Palestina akibat konflik yang tidak kunjung usai. Saleem Al-Ashqar kini menjadi simbol perjuangan dan duka bagi para pesepak bola yang harus bertahan hidup di bawah bayang-bayang peperangan.
Peristiwa tragis ini juga kembali memicu perhatian serius dari organisasi-organisasi olahraga internasional untuk melihat lebih dekat situasi di Jalur Gaza. Banyak pihak berharap agar keselamatan para atlet dapat lebih terjamin meskipun berada di tengah wilayah yang dilanda ketegangan politik dan militer.