Pasangan legendaris ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan, dikenal luas sebagai ikon ketangguhan di dunia bulu tangkis global. Selama bertahun-tahun berkarier, pasangan yang dijuluki The Daddies ini telah mengoleksi puluhan gelar internasional bergengsi untuk Tanah Air.
Namun, di balik kesuksesan luar biasa tersebut, ternyata ada satu kesamaan unik yang mengikat perjalanan karier keduanya. Baik Ahsan maupun Hendra ternyata sama-sama memendam kekaguman yang besar terhadap sosok legenda bulu tangkis yang sama, yaitu Tony Gunawan.
Inspirasi Mohammad Ahsan dari Sang Idola
Sebelum memutuskan untuk gantung raket, Mohammad Ahsan memiliki strategi khusus untuk mempertahankan performanya di tengah usia yang tidak lagi muda. Ia sangat menyadari bahwa secara fisik, sulit bagi atlet senior untuk mengejar peningkatan kekuatan yang drastis seperti pemain muda.
Oleh karena itu, Ahsan lebih memilih untuk mengasah aspek teknis permainannya agar tetap mampu bersaing di level tertinggi. Salah satu caranya adalah dengan tidak ragu mempelajari ilmu dari para pemain junior, bahkan hingga mengamati pola permainan dari sektor ganda campuran.
Keterbukaan sikap Ahsan untuk terus belajar ini ternyata berakar kuat dari rasa hormatnya kepada sosok Tony Gunawan. Ia mengaku sangat terinspirasi oleh ketangguhan Tony yang tetap bisa meraih prestasi tinggi meskipun sering bergonta-ganti pasangan selama kariernya.
Berikut adalah poin-poin alasan Mohammad Ahsan sangat mengagumi Tony Gunawan:
- Kemampuan Tony Gunawan untuk beradaptasi dengan rekan duet yang berbeda-beda tanpa menurunkan kualitas permainannya di lapangan.
- Konsistensi performa Tony yang tetap berada di level elit meskipun menghadapi berbagai perubahan gaya main bulu tangkis modern.
- Semangat juang dan profesionalisme tinggi yang ditunjukkan Tony sebagai atlet kelas dunia sepanjang masa aktifnya.
Kekaguman ini menjadi motivasi besar bagi Ahsan untuk menjadi pemain yang fleksibel dan serba bisa dalam kondisi apa pun. "Sejak masih junior, saya selalu senang melihat Koh Tony karena dia bisa berpasangan dengan siapa saja," ujar Ahsan dalam sebuah sesi bincang daring bersama PBSI.
Ia menambahkan bahwa hal tersebut menjadi pendorong baginya untuk membuktikan bahwa seorang atlet harus mampu bekerja sama dengan siapapun. Dengan prinsip tersebut, Ahsan terus memperbarui teknik bermainnya agar tetap relevan saat menghadapi lawan yang secara usia jauh lebih muda darinya.
Hendra Setiawan dan Kekaguman pada Teknik Netting
Setali tiga uang dengan rekan setimnya, Hendra Setiawan juga menempatkan nama Tony Gunawan di posisi tertinggi sebagai sosok inspirasi. Hendra melihat Tony bukan sekadar pemain hebat, melainkan guru yang memberikan pengaruh besar pada gaya bermainnya sendiri.
Jika Ahsan lebih fokus mengagumi aspek fleksibilitas Tony dalam memilih pasangan, Hendra memiliki ketertarikan yang lebih spesifik. Ia mengaku sangat terobsesi dan mempelajari dengan detail keahlian luar biasa yang dimiliki Tony Gunawan saat bermain di area depan net.
Kehebatan Tony dalam mengontrol permainan di depan net memang diakui dunia sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah. Hal inilah yang kemudian banyak diadaptasi oleh Hendra, yang kini juga dikenal sebagai salah satu pemain dengan permainan net paling mematikan di dunia.
Informasi mengenai profil singkat kedua pemain ganda putra legendaris Indonesia tersebut:
| Nama Atlet | Fokus Kekaguman pada Tony Gunawan |
|---|---|
| Mohammad Ahsan | Kemampuan beradaptasi dengan berbagai pasangan berbeda di lapangan. |
| Hendra Setiawan | Keahlian teknis dan penguasaan permainan yang luar biasa di area net. |
Melalui data tersebut, terlihat bagaimana satu sosok legenda mampu memberikan pengaruh yang berbeda namun saling melengkapi bagi pasangan The Daddies. Kombinasi fleksibilitas gaya main Ahsan dan kecerdikan netting Hendra akhirnya menciptakan duet yang sangat disegani lawan-lawannya.
Kisah ini membuktikan bahwa seorang juara besar sekalipun tetap membutuhkan figur teladan untuk terus memacu semangat dan kualitas mereka. Pengaruh Tony Gunawan terbukti mampu membentuk karakter bermain Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan hingga menjadi legenda hidup Indonesia saat ini.