Cipta Cendikia FA berhasil mencuri perhatian publik dalam ajang sepak bola putri HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 untuk kategori usia di bawah 15 tahun (U-15). Tim yang datang dengan status juara regional Jabodetabek ini menunjukkan performa impresif selama kompetisi berlangsung hingga berhasil menyabet posisi runner-up.
Keberhasilan tim ini tidak lepas dari strategi perekrutan yang terukur, di mana mereka banyak mengandalkan talenta berbakat lulusan MilkLife Soccer Challenge. Kehadiran para pemain muda berbakat ini memberikan warna tersendiri bagi kekuatan tim dalam menghadapi persaingan ketat di level nasional.
Perjalanan Cipta Cendikia FA menuju partai puncak terbilang sangat kompetitif sejak hari pertama bergulirnya turnamen. Tim asuhan pelatih Ruly Hidayansyah ini menunjukkan konsistensi permainan yang solid melawan tim-tim kuat dari berbagai daerah.
Pada laga pembuka tanggal 6 Juli 2026, mereka harus puas berbagi angka 1-1 saat menghadapi Goal Aksis. Namun, performa mereka segera meningkat di pertandingan-pertandingan berikutnya untuk mengamankan poin penuh.
Kemenangan pertama diraih saat membungkam Tigers Football Academy dengan skor meyakinkan 2-0. Gol kemenangan pada laga tersebut dipersembahkan oleh Albianca Raula dan Yasmin Aprilianti.
Tren positif ini berlanjut pada pertandingan pamungkas fase grup melawan Scorpion FC yang berakhir dengan kemenangan 2-0. Dua gol penentu keberhasilan tim dicetak oleh Keyla Azzahra Putri Natawidjaya serta Ayla Dva Khala Ahisma.
Memasuki babak semifinal, Cipta Cendikia FA harus menghadapi tantangan berat dari tim tangguh Arema FC Women U-15. Pertandingan berjalan sengit hingga akhirnya Cipta Cendikia menang tipis 2-1 berkat gol dari Shilen Nailenka Khanza dan Ayla Dva Khala Ahisma.
Pada partai final yang digelar Minggu, 12 Juli 2026, Cipta Cendikia kembali dipertemukan dengan rival mereka, Goal Aksis. Sayangnya, setelah bermain tanpa gol di waktu normal, mereka harus merelakan gelar juara setelah kalah dalam drama adu penalti.
Daftar pemain lulusan MilkLife Soccer Challenge yang memperkuat Cipta Cendikia FA:
- Albianca Raula
- Andien Haifa Syakira
- Andara Alisya
- Ayla Dva Khala Ahisma
- Chasyafa Nur Chasanah
- Kalila Fausta Bastian
- Keisya Zahira Putri
- Khansa Nisa Arrosid
- Mifah Putri Mayang Sari
- Nafisah Nailal Husna
- Shilen Nailenka Khanza
- Syifa Afiqah Zahra
Para pemain di atas merupakan pilar penting yang membawa tim melaju hingga ke babak final dalam kompetisi prestisius ini. Keberadaan mereka membuktikan bahwa ekosistem pembinaan sepak bola putri yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation mulai membuahkan hasil nyata.
Data menunjukkan bahwa mayoritas skuad Cipta Cendikia diisi oleh pemain jebolan kompetisi usia dini. Dari total 21 pemain yang didaftarkan, 12 di antaranya merupakan lulusan MilkLife Soccer Challenge yang telah dipantau sejak lama.
Intan Fitriani, penanggung jawab Cipta Cendikia Football Academy, mengungkapkan bahwa perkembangan sepak bola putri saat ini sedang tumbuh pesat. Pihaknya sengaja mengambil momentum ini untuk merekrut talenta-talenta terbaik dari berbagai daerah agar bisa berkembang lebih profesional.
Salah satu cerita menarik datang dari Ayla Dva Khala Ahisma, penyerang andalan yang berasal dari Yogyakarta. Bakat Ayla terpantau oleh tim pelatih saat ia tampil menonjol dalam ajang MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2025 di kota asalnya.
Intan menjelaskan bahwa manajemen langsung menawarkan Ayla untuk bergabung setelah melihat rekaman video permainannya yang memukau. Ayla akhirnya resmi bergabung dan pindah ke Bogor untuk memperkuat tim sejak putaran kedua HYDROPLUS Soccer League regional Jabodetabek.
Selain Ayla, ada juga Albianca Raula yang baru saja menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Bianca telah memantapkan diri untuk melanjutkan studi di SMP Cipta Cendikia mulai tahun ajaran 2026/2027 agar bisa fokus berlatih sepak bola.
Bianca menceritakan bahwa selama ini ia harus menempuh jarak puluhan kilometer dari rumahnya di Kebagusan menuju tempat latihan di Cibinong. Dengan bersekolah di sana, ia nantinya akan tinggal di asrama sehingga proses latihan dan belajarnya bisa lebih efisien.
Sistem asrama yang diterapkan Cipta Cendikia memang dirancang untuk membentuk kedisiplinan para atlet muda. Tidak hanya urusan teknik di lapangan hijau, para siswi juga diberikan menu latihan fisik dan mental yang beragam.
Ayla mengaku sangat menikmati pola hidup di asrama yang penuh dengan kegiatan positif setiap harinya. Selain latihan rutin, para pemain juga mendapatkan jadwal khusus untuk kegiatan pendukung lainnya.
Contoh rutinitas mingguan pemain di asrama Cipta Cendikia FA:
| Hari | Jenis Kegiatan | Fokus Utama |
|---|---|---|
| Senin | Berenang | Pemulihan fisik dan stamina |
| Selasa - Rabu | Latihan Sepak Bola | Teknik individu dan taktik tim |
| Jumat | Yoga | Fleksibilitas dan kesehatan mental |
Jadwal yang terstruktur ini bertujuan agar para pemain tidak hanya hebat dalam bertanding, tetapi juga memiliki kebugaran yang prima. Selain itu, aspek mental juga menjadi perhatian utama agar mereka tetap tenang di bawah tekanan kompetisi.
Komitmen Cipta Cendikia dalam mencetak atlet cerdas dibuktikan dengan pemberian beasiswa penuh bagi para pemain berbakat. Namun, seleksi yang diterapkan sangat ketat karena melibatkan aspek psikologis dan nilai akademik.
Intan menegaskan bahwa misi utama akademi adalah mematahkan stigma lama bahwa atlet biasanya malas belajar. Mereka ingin menciptakan generasi pesepak bola putri yang berintegritas, cerdas secara akademik, dan memiliki sikap atau attitude yang baik.
Keberhasilan program ini sudah teruji pada akademi putra yang telah berdiri sejak tahun 2016 silam. Banyak lulusan akademi putra mereka yang sukses menembus perguruan tinggi negeri bergengsi di Indonesia.
Daftar universitas terkemuka yang berhasil ditembus oleh lulusan Cipta Cendikia:
- Universitas Indonesia (UI)
- Institut Teknologi Bandung (ITB)
- Universitas Brawijaya (UB)
Kesuksesan pada kategori putra inilah yang kini coba direplikasi pada kategori sepak bola putri yang baru dimulai tahun 2024. Pihaknya membuka pintu lebar bagi anak-anak perempuan berbakat yang memiliki kemauan kuat untuk tetap bersekolah dengan serius.
Persyaratan untuk masuk ke akademi ini tidak hanya berpatokan pada kemampuan mengolah si kulit bundar. Calon siswi harus melewati serangkaian tes seperti psikotes dan wawancara untuk memastikan mereka siap menjalani kehidupan sebagai siswa atlet.
Dengan adanya kolaborasi antara pendidikan dan olahraga, Cipta Cendikia berharap bisa melahirkan pemain timnas di masa depan yang berkualitas. Langkah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi akademi lain untuk lebih memperhatikan aspek akademis para atletnya.