Bagi publik Inggris, label tim yang gemar melakukan tipu daya sudah melekat kuat pada tim nasional Argentina sejak lama. Memori kolektif mereka masih menyimpan luka dari tiga insiden ikonik di Piala Dunia, yakni kartu merah Antonio Rattin pada 1966, provokasi Diego Simeone yang memancing kartu merah David Beckham pada 1998, serta gol "Tangan Tuhan" legendaris milik Diego Maradona pada 1986.
Narasi serupa kini kembali memanas di panggung Piala Dunia 2026 setelah Argentina menumbangkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar. Pihak Mesir melayangkan protes keras setelah gol mereka dianulir oleh VAR, yang kemudian memicu kemunculan kembali julukan "VARgentina" di jagat media sosial.
Meskipun FIFA telah menegaskan bahwa penggunaan teknologi VAR dilakukan secara objektif tanpa keberpihakan, opini bahwa Albiceleste selalu mendapat keuntungan dari wasit sulit diredam. Kontroversi ini kian meruncing saat Argentina menghadapi Swiss di babak perempat final, di mana Breel Embolo dipaksa keluar lapangan.
Embolo menerima kartu kuning kedua setelah wasit meralat keputusannya melalui penerapan aturan baru terkait kesalahan identitas (mistaken identity). Murat Yakin selaku pelatih Swiss menyatakan kekecewaannya dan menyebut keputusan tersebut sangat sulit untuk diterima secara akal sehat.
Rentetan insiden ini membuat Argentina kembali dipojokkan dengan tuduhan lama bahwa kesuksesan mereka didapat dari kemahiran memanfaatkan celah aturan, bukan murni karena kualitas teknis. Namun, hanya memandang kekuatan Argentina dari sisi kelicikan tentu merupakan penilaian yang sangat dangkal dan tidak adil.
Pasukan Argentina sebenarnya memiliki fleksibilitas taktis luar biasa yang memungkinkan mereka mengubah gaya permainan sesuai dengan lawan yang dihadapi. Mereka mampu menunjukkan kesabaran tinggi dalam menguasai aliran bola, namun bisa seketika beralih ke serangan vertikal yang mematikan saat melihat ruang kosong.
Sebagai juara bertahan, mereka memiliki kedalaman skuad di lini serang yang sangat mengerikan dengan keberadaan sosok Lionel Messi, Julian Alvarez, hingga Lautaro Martinez. Hal ini menjadikan tim asuhan Lionel Scaloni sebagai salah satu kontestan yang paling komplet dan berbahaya di sepanjang turnamen ini.
Phil Neville, mantan pemain Inggris yang kini menjadi pundit, memberikan pandangannya melalui kolom di The Times pada 14 Juli lalu. Ia menekankan bahwa kekuatan sejati Argentina bukan pada taktik semata, melainkan pada semangat kebersamaan dan ikatan persaudaraan yang melampaui batas permainan sepak bola.
Memahami Akar Budaya Sepak Bola Argentina
Untuk memahami mengapa citra cerdik sekaligus licik begitu melekat, kita perlu menengok kembali sejarah panjang sepak bola di tanah kelahiran Messi tersebut. Selama berpuluh-puluh tahun, filosofi sepak bola Argentina terbelah menjadi dua arus utama yang sangat kontras, yaitu Menottismo dan Bilardismo.
Arus pertama, Bilardismo, diambil dari nama Carlos Bilardo, pelatih yang sukses membawa Argentina meraih trofi Piala Dunia pada tahun 1986. Paham ini mengusung prinsip bahwa kemenangan adalah segalanya, apa pun cara yang harus ditempuh untuk mencapainya.
Dalam Bilardismo, permainan dijalankan dengan kedisiplinan yang kaku, persiapan obsesif, serta analisis mendalam terhadap kelemahan lawan. Gaya ini bahkan tidak segan untuk mengabaikan estetika permainan atau bermain di zona abu-abu aturan demi menjamin hasil akhir yang diinginkan.
Sebaliknya, ada mazhab Menottismo yang dipelopori oleh Cesar Luis Menotti, sosok di balik keberhasilan Argentina menjuarai Piala Dunia 1978. Bagi pendukung paham ini, sepak bola adalah sebuah bentuk ekspresi kebebasan dan seni yang harus dinikmati.
Filosofi Menottismo mengedepankan keberanian dalam mengolah bola, kreativitas pemain di lapangan, serta keindahan permainan sebagai prioritas utama. Perbedaan fundamental antara kedua mazhab ini telah membagi perspektif sepak bola di Argentina selama beberapa generasi.
Tokoh-tokoh besar seperti Jorge Valdano, Jorge Sampaoli, hingga Mauricio Pellegrino dikenal sebagai penganut setia aliran Menottismo. Sementara itu, Diego Simeone muncul sebagai murid Bilardo yang paling menonjol dengan tetap memegang teguh prinsip pragmatisme yang kuat dalam melatih.
Kritik Sastra dan Realitas "Viveza"
Kemampuan Argentina dalam "mengakali keadaan" ini juga pernah diulas secara mendalam oleh sastrawan ternama, Eduardo Galeano. Dalam bukunya yang berjudul Soccer in Sun and Shadow, Galeano membahas sisi gelap sekaligus unik dari fenomena sepak bola dunia.
Dalam salah satu esainya yang berjudul Anything Goes, Galeano mengkritik bagaimana sepak bola profesional modern lebih menghamba pada efektivitas hasil daripada nilai moralitas. Ia berpendapat bahwa dalam industri olahraga saat ini, sebuah pelanggaran dianggap bukan masalah selama tipu daya itu berbuah kemenangan.
Argentina sering kali menjadi contoh utama dalam tulisan-tulisannya karena keterkaitannya dengan budaya viveza. Budaya ini merujuk pada kecerdikan seseorang dalam mengambil keuntungan dari situasi sulit dengan cara yang berani dan terkadang tidak terduga.
Galeano menceritakan berbagai kisah unik tentang Carlos Bilardo yang dipuji karena upayanya memenangkan laga dengan segala cara. Mulai dari rumor menusuk lawan secara diam-diam menggunakan peniti hingga tuduhan pemberian obat penenang melalui botol minuman kepada pemain Brasil, Branco, di Piala Dunia 1990.
Bahkan, Galeano mencatat bahwa banyak suporter Argentina mencintai gol "Tangan Tuhan" Maradona bukan karena proses teknisnya yang cantik. Mereka merayakannya karena tindakan tersebut berhasil mengecoh wasit, sebuah paradoks di mana kecerdikan dipuja melebihi sportivitas selama memberikan kemenangan.
Transformasi di Bawah Kepemimpinan Scaloni
Meski sejarah kelicikan itu terus dibicarakan, label tersebut sebenarnya mulai luntur sejak Lionel Scaloni mengambil alih kursi kepelatihan. Dalam sebuah sesi wawancara bersama FIFA, Scaloni mengungkapkan bahwa ia mencoba menggabungkan elemen positif dari Bilardo dan Menotti.
Di bawah arahannya, Argentina tetap bisa bermain pragmatis saat dibutuhkan, namun mereka tidak pernah kehilangan identitas menyerang yang menjadi ciri khasnya. Scaloni berhasil membangun kesuksesan bukan lagi di atas budaya tipu daya, melainkan di atas fondasi soliditas tim.
Salah satu pencapaian terbesar Scaloni adalah menciptakan suasana ruang ganti yang harmonis dan menghapus sekat-sekat antar pemain senior dan junior. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki yang sangat kuat terhadap seragam tim nasional di hati setiap pemain yang dipanggil.
Peran Lionel Messi sangat krusial dalam proses transformasi besar-besaran yang dilakukan oleh pelatih yang dijuluki Scaloneta tersebut. Sebagai kapten tim, Messi memberikan kepercayaan penuh kepada instruksi Scaloni dan menjadi teladan nyata bagi para pemain muda dalam skuad.
Kehadiran Messi yang lebih matang membuat filosofi baru ini lebih mudah diserap oleh seluruh anggota tim Albiceleste. Hasil nyata dari evolusi ini adalah lahirnya tim Argentina yang tidak hanya unggul secara taktik, tetapi juga memiliki ketangguhan mental yang luar biasa di lapangan.
Analisis Strategi Menjelang Duel Melawan Inggris
Menghadapi partai krusial melawan Inggris, Argentina diprediksi akan kembali mengandalkan kekuatan lini tengah mereka yang sangat dinamis. Berikut adalah beberapa poin kunci yang menjadi pusat perhatian dalam persiapan strategi kedua tim nasional tersebut:
Daftar pemain kunci dan sektor yang menjadi penentu jalannya pertandingan mendatang:
- Lini Tengah Argentina: Sektor ini dihuni oleh pemain berkualitas seperti Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, dan Leandro Paredes sebagai pengatur tempo.
- Kreativitas Messi: Kapten Argentina ini tetap menjadi ancaman utama dengan statistik umpan ke kotak penalti tertinggi di sepanjang turnamen.
- Disiplin Inggris: Skuad asuhan Thomas Tuchel harus tetap fokus hingga detik terakhir karena Argentina sangat produktif mencetak gol di atas menit ke-76.
- Dominasi Udara: Inggris diperkirakan akan mengeksploitasi kelemahan Argentina dalam mengantisipasi bola-bola silang dan duel fisik di udara.
Poin-poin di atas menunjukkan bahwa pertandingan ini bukan sekadar adu bakat individu, melainkan perang strategi yang melibatkan seluruh lini di lapangan. Kemampuan adaptasi pelatih dalam membaca situasi akan menjadi kunci siapa yang berhak melaju ke partai puncak.
Analisis dari Sky Sports menyarankan agar Inggris memperkuat area tengah melalui Jude Bellingham dan Harry Kane guna membantu Declan Rice membendung dominasi Argentina. Argentina memiliki keunggulan jumlah pemain di lini tengah yang sering kali membuat lawan mereka kesulitan mengembangkan permainan.
Leandro Paredes berperan sebagai jembatan utama untuk mengalirkan bola ke sepertiga akhir lapangan, di mana Messi sudah menunggu untuk mengirimkan umpan-umpan mematikan. Di sisi lain, Inggris memiliki keunggulan dalam hal intensitas fisik dan kedalaman skuad yang bisa menjadi pembeda di babak kedua.
Berdasarkan data statistik, persaingan antara kedua tim elite ini diprediksi akan berlangsung sangat sengit dan sulit ditebak hasilnya. Berikut adalah perbandingan peluang kemenangan berdasarkan data yang dihimpun oleh Opta menjelang pertandingan semifinal tersebut:
| Kategori Statistik | Tim Nasional Inggris | Tim Nasional Argentina |
|---|---|---|
| Peluang Kemenangan (Opta) | 51,9% | 48,1% |
| Kekuatan Utama | Intensitas & Duel Udara | Taktik & Pengalaman Juara |
| Waktu Gol Krusial | Konsistensi Babak Pertama | Menit Akhir (Setelah 76') |
Tabel di atas menggambarkan betapa tipisnya perbedaan kekuatan antara kedua tim, di mana Inggris hanya sedikit lebih diunggulkan dibandingkan Argentina. Pertandingan ini diprediksi tidak akan hanya ditentukan oleh magis seorang Lionel Messi, melainkan oleh detail-detail kecil yang terjadi di lapangan hijau.
Jika Inggris berhasil menyingkirkan Argentina dan melaju ke final, maka sejarah tahun 2014 akan terulang di mana tim asal Eropa kembali berjaya di benua Amerika. Duel semifinal Piala Dunia 2026 ini dipastikan akan menjadi salah satu laga paling bersejarah yang dinanti oleh jutaan pasang mata di seluruh dunia.
Opini ini ditulis oleh Titis Widyatmoko, Pemimpin Redaksi Liputan6.com dan Bola.net. Seluruh isi kolom merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi institusi.