Ruben Amorim kini resmi mengawali babak baru dalam karier kepelatihannya setelah diperkenalkan sebagai nakhoda anyar AC Milan. Langkah besar ini diambil hanya berselang enam bulan sejak dirinya dibebastugaskan oleh Manchester United pada Januari 2026 lalu.
Kepastian bergabungnya pelatih asal Portugal ini diumumkan secara resmi pada Senin, 6 Juli 2026. Kehadiran Amorim di San Siro membawa antusiasme sekaligus pernyataan yang cukup menarik perhatian publik sepak bola dunia.
Babak Baru di Italia dan Sindiran untuk Masa Lalu
Sesaat setelah proses peresmiannya, Amorim memberikan komentar yang secara tidak langsung menyinggung pengalamannya saat berada di Old Trafford. Ia merasa bahwa tanggung jawab di Milan memberikan beban ekspektasi yang jauh lebih berat.
Pria berusia 41 tahun ini secara blak-blakan menyebut bahwa tantangan yang ia hadapi bersama Rossoneri jauh mengungguli apa yang ia rasakan di Inggris. Ungkapan tersebut seolah menjadi penanda semangat barunya di Serie A.
Amorim menegaskan bahwa AC Milan adalah klub dengan sejarah besar yang selalu memiliki tempat istimewa di hatinya. Hal inilah yang mendasari keyakinannya bahwa ujian di San Siro adalah yang terbesar sepanjang kariernya.
Ia bahkan mengakui sempat berjanji pada diri sendiri untuk mengambil pekerjaan dengan tekanan yang lebih ringan setelah meninggalkan Manchester. Namun, daya tarik Milan justru membuatnya mengambil langkah yang jauh lebih berisiko.
Berikut adalah kutipan langsung dari pernyataan Ruben Amorim mengenai alasannya berlabuh ke San Siro:
- "Jika Anda meninjau kembali wawancara-wawancara lama saya, Milan selalu menjadi klub yang sangat spesial bagi saya."
- "Tantangan di sini sangat luar biasa besar. Awalnya saya berjanji pada diri sendiri pasca pengalaman terakhir di Manchester untuk memilih tantangan yang lebih kecil."
- "Namun pada akhirnya saya berdiri di sini, menyadari bahwa tantangan yang ada justru terasa jauh lebih besar dari sebelumnya."
Pernyataan ini mencerminkan kesadaran penuh Amorim terhadap tuntutan tinggi dari para pendukung Milan. Ia datang dengan ambisi besar untuk segera mendongkrak performa tim yang sedang dalam masa transisi.
Menilik Rapor Kurang Memuaskan di Manchester United
Jika menilik ke belakang, perjalanan Amorim di Manchester United memang tergolong singkat dan penuh dengan gejolak. Ia tercatat hanya mampu bertahan selama 14 bulan di kursi panas manajer Setan Merah.
Selama periode tersebut, ia mendampingi United dalam 63 pertandingan di berbagai kompetisi resmi. Sayangnya, performa tim di bawah asuhannya dinilai tidak menunjukkan konsistensi yang diharapkan manajemen.
Rincian statistik performa Manchester United di bawah kepemimpinan Ruben Amorim adalah sebagai berikut:
| Kategori Statistik | Jumlah / Persentase |
|---|---|
| Total Pertandingan | 63 Laga |
| Kemenangan | 24 Kali |
| Hasil Imbang | 18 Kali |
| Kekalahan | 21 Kali |
| Rata-rata Kemenangan | 38,1 Persen |
Data di atas memperlihatkan bahwa rasio kemenangan Amorim di Old Trafford tidak mencapai angka 40 persen. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor kuat di balik keputusan klub untuk mengakhiri kerja sama lebih awal.
Selain persoalan teknis di lapangan, hubungan Amorim dengan para petinggi klub juga dikabarkan sempat memanas. Ketegangan internal ini mempercepat keputusannya untuk meninggalkan Inggris di awal tahun 2026.
Kebangkitan United di Bawah Michael Carrick
Setelah Amorim angkat kaki, Manchester United menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih sementara atau caretaker. Langkah darurat ini ternyata membuahkan hasil positif yang signifikan bagi stabilitas performa tim.
Carrick berhasil mengubah atmosfer ruang ganti dan membawa Setan Merah merangkak naik di klasemen. Ia sukses mengantarkan tim finis di posisi ketiga klasemen akhir Liga Inggris musim lalu.
Berkat pencapaian impresif tersebut, manajemen Manchester United memutuskan untuk memberikan status permanen kepada Carrick sebagai pelatih kepala. Klub merasa telah menemukan jalur yang tepat pasca-era Amorim.
Keberhasilan Carrick di paruh akhir musim menjadi bukti bahwa United membutuhkan pendekatan yang berbeda. Saat ini, arah klub dinilai lebih stabil dan terfokus pada pengembangan jangka panjang.
Misi Penyelamatan AC Milan
Kini beban berat berpindah ke pundak Amorim untuk mengembalikan kejayaan AC Milan yang sempat meredup. Milan diketahui baru saja melewati musim yang cukup mengecewakan di kompetisi domestik.
Musim lalu, Rossoneri hanya mampu mengakhiri kompetisi di peringkat kelima klasemen Serie A. Hasil ini menjadi pukulan telak karena mereka dipastikan absen dari ajang bergengsi Liga Champions musim 2026/2027.
Kegagalan tersebut menjadi alasan utama bagi manajemen Milan untuk memecat Massimiliano Allegri dari kursi pelatih. Amorim pun didatangkan sebagai sosok yang diharapkan mampu memberikan perubahan instan.
Fokus utama Amorim saat ini adalah membangun kembali kekuatan skuad untuk bersaing di papan atas Liga Italia. Selain itu, ia juga dibebankan target tinggi pada kompetisi kasta kedua Eropa, yakni Liga Europa.
Ekspektasi besar kini menanti pelatih asal Portugal tersebut di San Siro. Publik sepak bola akan menantikan apakah Amorim mampu membuktikan bahwa ia bisa sukses di tengah tantangan yang ia sebut "lebih besar" ini.