Badan sepak bola Eropa, UEFA, secara resmi mengambil langkah yang berbeda dari FIFA terkait aturan disiplin pemain di lapangan hijau. UEFA memastikan tidak akan memberikan kartu merah kepada pemain yang menutup mulut saat berbicara dengan lawan dalam kompetisi antarklub musim depan.
Keputusan ini akan mulai diterapkan pada berbagai ajang bergengsi di bawah naungan UEFA. Turnamen tersebut meliputi Liga Champions, Liga Europa, hingga ajang Conference League yang mulai populer bagi klub-klub Eropa.
Perbedaan Sikap Antara UEFA dan FIFA
Langkah yang diambil UEFA ini menunjukkan adanya perbedaan visi dengan otoritas sepak bola dunia, FIFA. Sebelumnya, FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino mendorong aturan yang jauh lebih tegas bagi para pemain di lapangan.
Dalam regulasi yang direncanakan untuk Piala Dunia 2026, pemain bisa langsung diusir dari lapangan jika terbukti menutup mulut dengan tangan saat berinteraksi dengan lawan. Aturan keras tersebut bertujuan untuk transparansi dan menghindari potensi ucapan kasar atau rasis.
UEFA merilis pernyataan resmi terkait kebijakan disiplin terbaru mereka:
- Tindakan menutup mulut untuk menyembunyikan percakapan tetap dikategorikan sebagai perilaku tidak sportif.
- Wasit memiliki kewenangan penuh untuk memberikan kartu kuning kepada pemain yang melakukan hal tersebut.
- Sanksi di atas lapangan tidak menggugurkan kemungkinan adanya investigasi disipliner lanjutan setelah laga usai.
- Proses hukum tambahan akan dilakukan jika ditemukan bukti adanya pelanggaran berat lainnya dalam insiden tersebut.
Melalui aturan ini, UEFA memberikan jalan tengah bagi integritas pertandingan. Meskipun tidak langsung mengusir pemain, mereka tetap memberikan peringatan keras melalui kartu kuning sebagai bentuk kontrol disiplin.
Catatan Insiden Selama Piala Dunia 2026
Penerapan aturan ketat FIFA sebenarnya sudah memakan korban pada perhelatan Piala Dunia 2026. Salah satunya adalah Miguel Almiron, bintang timnas Paraguay, yang terpaksa keluar lapangan lebih awal.
Almiron menerima kartu merah saat Paraguay berhadapan dengan Turki di Stadion San Francisco Bay Area pada 19 Juni 2026. Ia dihukum wasit setelah terlihat menutupi mulutnya saat sedang berbicara dengan pemain lawan di tengah laga.
Nasib serupa juga dialami oleh bek tangguh Ekuador, Piero Hincapie. Hincapie harus mandi lebih cepat karena wasit menganggap tindakannya menutupi mulut sebagai sebuah pelanggaran yang patut diganjar hukuman kartu merah langsung.
Namun, tidak semua pemain mendapatkan perlakuan yang sama dalam turnamen tersebut. Gelandang andalan Timnas Inggris, Jude Bellingham, justru berhasil lolos dari sanksi pengusiran meski melakukan gestur serupa.
Menurut laporan dari ESPN, Bellingham terlihat menutup mulut saat berbicara dengan pemain Ghana. Namun, wasit dan pihak otoritas menilai tindakannya tidak dilakukan dalam suasana konfrontatif atau memicu ketegangan antar pemain.
Kasus Rasisme di Liga Champions
Isu mengenai pemain yang menutupi mulut ini sebenarnya sempat mencuat dan menjadi perdebatan hangat pada Februari lalu. Kejadian ini berlangsung dalam pertandingan knockout play-off Liga Champions antara Real Madrid melawan Benfica.
Saat itu, laga berlangsung di Estadio da Luz, Lisbon, di mana Vinicius Junior mencetak gol tunggal kemenangan Madrid. Namun, kemenangan tersebut dinodai oleh dugaan aksi rasisme yang melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni.
Prestianni tertangkap kamera menutupi mulutnya menggunakan jersey saat berbicara dengan Vinicius. Pemain asal Brasil tersebut kemudian melayangkan tudingan bahwa Prestianni telah melontarkan kata-kata bernada rasisme kepadanya.
UEFA segera melakukan penyelidikan mendalam atas insiden yang menghebohkan publik sepak bola tersebut. Hasil penyelidikan menyatakan Prestianni bersalah, namun bukan atas tindakan rasisme, melainkan perilaku anti-gay.
Akibat perbuatannya tersebut, UEFA menjatuhkan sanksi berat kepada Prestianni berupa larangan bermain sebanyak enam pertandingan. Kasus inilah yang menjadi salah satu dasar perdebatan mengenai pentingnya transparansi percakapan di lapangan.
Inovasi Aturan Baru UEFA Musim Depan
Meskipun menolak mengadopsi aturan kartu merah untuk aksi tutup mulut, UEFA tetap melakukan sejumlah pembaruan regulasi. Mereka fokus pada aspek teknologi untuk memastikan keadilan bagi setiap tim yang bertanding.
Salah satu poin penting dalam aturan baru tersebut adalah perluasan wewenang VAR (Video Assistant Referee). Kini, VAR memiliki mandat untuk memeriksa kembali keputusan wasit terkait tendangan sudut yang dianggap keliru.
Berikut adalah ringkasan kebijakan terbaru UEFA untuk musim mendatang:
| Jenis Pelanggaran / Kondisi | Kebijakan UEFA | Keterangan Tambahan |
|---|---|---|
| Menutup mulut saat bicara | Kartu Kuning | Bisa berlanjut ke sidang disiplin jika ada indikasi pelanggaran berat. |
| Protes dengan meninggalkan lapangan | Bukan Kartu Merah | UEFA tidak akan mengusir pemain yang keluar lapangan sebagai bentuk protes. |
| Kesalahan Tendangan Sudut | Intervensi VAR | Wasit video bisa mengoreksi keputusan jika terjadi salah penunjukan corner. |
Penerapan VAR untuk meninjau tendangan sudut sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru di dunia sepak bola. Mekanisme ini sudah lebih dulu diuji coba dan diterapkan pada Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Utara.
Keputusan UEFA untuk tidak memberikan kartu merah bagi pemain yang menutup mulut juga berlaku bagi situasi protes. Mereka memilih untuk tidak menghukum pemain yang keluar lapangan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap keputusan wasit.
Dengan berbagai perubahan ini, UEFA berharap kualitas pertandingan di kompetisi Eropa tetap terjaga. Mereka berupaya menjaga keseimbangan antara kedisiplinan pemain dan kelancaran alur permainan tanpa terlalu banyak pengusiran yang kontroversial.