Persaingan di babak perempat final Piala Dunia 2026 diprediksi akan berlangsung sangat sengit. Selain memperebutkan tiket ke semifinal, banyak pemain yang kini dihantui risiko skorsing akibat akumulasi kartu kuning.
Setidaknya ada 17 pemain dari delapan tim yang lolos ke fase ini berada dalam posisi rawan. Jika mereka kembali mendapat kartu dari wasit, mereka dipastikan absen membela negaranya di babak semifinal mendatang.
Situasi ini tentu menjadi tantangan berat bagi para pelatih dalam menyusun strategi di lapangan. Pemain dituntut tetap tampil garang untuk menang, namun harus ekstra hati-hati agar tidak melakukan pelanggaran fatal.
Aturan Ketat FIFA Terkait Akumulasi Kartu
Sesuai regulasi FIFA, perhitungan kartu kuning pada fase gugur dimulai kembali sejak babak 16 besar. Namun, pemutihan kartu baru akan dilakukan setelah seluruh rangkaian laga perempat final selesai dilaksanakan.
Artinya, siapa pun yang mengoleksi dua kartu kuning sejak babak 32 besar hingga perempat final wajib menjalani hukuman satu laga. Sanksi ini otomatis berlaku untuk pertandingan krusial di babak empat besar.
Hingga saat ini, belum ada pemain yang terkena skorsing akibat akumulasi kartu kuning di turnamen ini. Meski demikian, bayang-bayang hukuman tersebut kini terasa sangat nyata bagi belasan pemain kunci dari berbagai negara.
Inggris dan Maroko Menanggung Risiko Terbesar
Maroko menjadi tim yang paling terancam karena memiliki empat pemain inti yang sudah mengantongi satu kartu kuning. Nama-nama seperti Achraf Hakimi, Issa Diop, Redouane Halhal, dan Bilal El Khannouss harus menjaga disiplin saat bersua Prancis.
Kondisi serupa dialami oleh skuad Inggris yang juga mencatatkan empat pemain dalam daftar risiko. Declan Rice, Jude Bellingham, Marc Guéhi, dan Nico O'Reilly terancam absen di semifinal jika kembali ditegur wasit saat melawan Norwegia.
Berikut adalah rincian jumlah pemain dari setiap negara perempat finalis yang terancam skorsing kartu kuning:
| Negara | Jumlah Pemain Terancam | Nama Pemain Kunci |
|---|---|---|
| Maroko | 4 Orang | Achraf Hakimi, Bilal El Khannouss |
| Inggris | 4 Orang | Declan Rice, Jude Bellingham |
| Swiss | 3 Orang | Granit Xhaka, Denis Zakaria |
| Prancis | 2 Orang | Michael Olise, Manu Kone |
| Argentina | 1 Orang | Gonzalo Montiel |
| Spanyol | 1 Orang | Ferran Torres |
| Norwegia | 1 Orang | Antonio Nusa |
| Belgia | 1 Orang | Brandon Mechele |
Data di atas menunjukkan bahwa tim-tim besar seperti Maroko dan Inggris harus memutar otak lebih keras. Kehilangan pemain seperti Bellingham atau Hakimi di semifinal tentu akan menjadi kerugian yang sangat besar.
Kondisi Pemain di Negara Lainnya
Swiss juga berada dalam posisi yang kurang menguntungkan dengan tiga pemain andalan yang terancam. Granit Xhaka, Denis Zakaria, dan Miro Muheim wajib bermain bersih saat berhadapan dengan Argentina.
Di sisi lain, Prancis memiliki Michael Olise dan Manu Kone yang berada di ambang hukuman. Federasi Sepak Bola Prancis kabarnya sempat mencoba mengajukan banding atas kartu kuning Olise, namun statusnya tetap berisiko.
Beberapa pemain dari tim lain yang juga masuk dalam daftar waspada antara lain adalah:
- Gonzalo Montiel (Argentina): Bek yang sering menjadi pelapis namun krusial di saat darurat.
- Ferran Torres (Spanyol): Penyerang sayap yang menjadi opsi penting di lini depan La Roja.
- Antonio Nusa (Norwegia): Talenta muda yang bisa menjadi pemecah kebuntuan dari bangku cadangan.
- Brandon Mechele (Belgia): Bek veteran berusia 33 tahun yang menjadi pilar utama pertahanan Setan Merah.
Dari daftar tersebut, Brandon Mechele dianggap yang paling berisiko karena perannya yang tak tergantikan di lini belakang Belgia. Ia menerima kartu kuning saat laga sengit melawan Senegal di babak sebelumnya.
Babak perempat final ini bukan hanya soal taktik dan skor akhir, tapi juga soal ketenangan mental. Tim yang mampu mengelola emosi pemainnya dengan baik kemungkinan besar akan melaju ke semifinal dengan skuad yang utuh.