Pebalap utama Aprilia, Jorge Martin, mengajukan usul kepada otoritas MotoGP untuk memangkas jumlah putaran pada seri MotoGP Belanda 2026. Permintaan ini muncul setelah para pebalap harus menghadapi suhu udara ekstrem yang melanda Sirkuit TT Assen belakangan ini.
Martin menilai kondisi cuaca di Assen saat ini jauh lebih menyiksa dibandingkan balapan di India yang dikenal sangat melelahkan. Jika suhu panas tidak kunjung menurun hingga hari balapan pada Minggu (28/6/2026), ia berharap ada kebijakan khusus demi keselamatan.
Perbandingan Suhu Ekstrem Assen dan India
Jorge Martin masih mengingat betul betapa beratnya perjuangan fisik saat melakoni MotoGP India pada musim 2023 silam. Kala itu, ia bahkan sempat jatuh pingsan akibat kelelahan luar biasa setelah berhasil mengamankan podium kedua.
Meski India dikenal panas, data statistik menunjukkan bahwa tantangan di Belanda kali ini ternyata jauh lebih berat bagi fisik atlet. Berikut adalah rincian perbandingan kondisi cuaca antara kedua seri balapan tersebut:
Data cuaca pada sesi latihan dan balapan:
| Lokasi Balapan | Suhu Udara | Tingkat Kelembapan |
|---|---|---|
| MotoGP India 2023 | 33 Derajat Celsius | 65 Persen |
| MotoGP Belanda 2026 (Practice) | 36 Derajat Celsius | 40 Persen |
Tabel di atas memperlihatkan bahwa suhu di Assen lebih tinggi tiga derajat dibandingkan India saat Martin mengalami pingsan. Meskipun kelembapannya lebih rendah, sengatan panas di Belanda dirasakan jauh lebih agresif oleh para pebalap di lintasan.
Sensasi Panas yang Membakar Tubuh
Dalam keterangannya, Martin mengungkapkan bahwa ia belum pernah merasakan suhu sepanas ini selama berkarier di kelas utama. Ia merasa sensasi panas di Assen sangat berbeda dan jauh lebih menyengat di kulit.
Pebalap asal Spanyol tersebut bahkan lebih memilih balapan di Thailand atau Malaysia yang memiliki tingkat kelembapan udara sangat tinggi. Menurutnya, udara di kedua negara Asia tersebut masih lebih bisa ditoleransi dibandingkan kondisi di Belanda saat ini.
Di Assen saya benar-benar merasa seperti terbakar, wajah dan seluruh tubuh saya terasa sangat panas. Saya harus mempersiapkan segala hal dengan detail, mulai dari nutrisi hingga waktu tidur agar kondisi bisa pulih.
Martin menyadari bahwa pemulihan fisik menjadi kunci utama agar tetap kompetitif dalam situasi yang tidak menentu ini. Ia terus berupaya menjaga kebugaran tubuhnya setelah menjalani sesi latihan yang sangat menguras tenaga tersebut.
Dampak Buruk Cuaca Panas pada Performa Motor
Cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada fisik manusia, tetapi juga mempengaruhi kinerja mesin motor di lintasan. Martin menjelaskan bahwa performa kendaraan menurun secara signifikan ketika suhu udara mulai melonjak tinggi.
Hal ini terbukti dari catatan waktu para pebalap yang melambat sekitar satu setengah detik dibandingkan saat sesi pagi hari. Mesin motor dirasa tidak mampu bekerja secara maksimal dan distribusi tenaga menjadi tidak stabil akibat panas berlebih.
Efek negatif cuaca panas terhadap jalannya balapan:
- Penurunan stamina pebalap secara drastis hanya dalam dua atau tiga putaran saja.
- Kecepatan rata-rata motor melambat signifikan karena mesin tidak bekerja optimal.
- Kondisi ban lunak hanya efektif untuk satu putaran cepat, namun sulit menjaga ritme balap jangka panjang.
- Risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan serius bagi para pebalap di lintasan.
Berbagai faktor di atas menjadi dasar kuat bagi Jorge Martin untuk mendesak otoritas balap agar mempertimbangkan pemotongan jumlah lap. Baginya, keselamatan para pebalap harus selalu menjadi prioritas utama di atas aspek kompetisi lainnya.
Hingga saat ini, pihak penyelenggara MotoGP belum memberikan keputusan resmi terkait usulan pemangkasan durasi balapan tersebut. Namun, para pebalap tetap bersiap menghadapi kualifikasi dan Sprint Race di tengah tantangan cuaca yang sangat menantang ini.