Federasi Basket Internasional (FIBA) kembali menunjukkan keseriusannya dalam memajukan olahraga basket di Indonesia dari level paling bawah. Melalui inisiatif bertajuk "Basketball for Good", FIBA menargetkan pengembangan talenta muda di berbagai pelosok daerah secara berkelanjutan.
Untuk menjalankan program ini, terdapat lima wilayah strategis yang telah dipilih secara resmi. Kelima daerah tersebut meliputi Banten, Makassar, Lubuk Linggau, Kendari, hingga Samarinda.
Misi Pengembangan Karakter dan Keterampilan Hidup
Program ini merupakan bagian dari misi global FIBA Foundation yang mengedepankan konsep Sport for Development and Peace (SDP). Fokus utamanya bukan sekadar mengasah kemampuan teknis di lapangan, melainkan juga membangun karakter anak-anak.
Para peserta akan dibekali dengan berbagai keterampilan hidup (life skills) melalui pendekatan olahraga yang inklusif. Hal ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki mentalitas yang kuat.
Patrick Mariller mengungkapkan bahwa pendekatan ini telah terbukti memberikan dampak nyata bagi anak-anak di Indonesia. Menurutnya, aspek sosial dan mental siswa berkembang pesat seiring dengan latihan fisik yang mereka jalani.
Target Capaian dan Pelatihan Guru
Agenda besar "Basketball for Good" ini dijadwalkan berlangsung selama enam bulan, mulai dari Mei hingga Oktober 2026. FIBA menargetkan implementasi program ini dapat menjangkau 100 Sekolah Dasar (SD) di wilayah-wilayah yang telah ditentukan.
Rincian target operasional program Basketball for Good 2026:
- Melibatkan total 100 sekolah dasar sebagai pusat kegiatan.
- Memberikan pelatihan khusus kepada 100 guru olahraga melalui skema Training of Teachers (ToT).
- Mengedukasi lebih dari 3.000 siswa melalui kurikulum yang terstruktur.
- Menerapkan panduan praktis dari Basketball for Good Playbook.
Materi edukasi yang diberikan mencakup berbagai sesi permainan basket yang menyenangkan dan latihan ketangkasan (agility drills). Selain itu, para siswa juga akan mendapatkan pengetahuan mengenai pola hidup sehat sejak dini.
Olahraga Sebagai Instrumen Perubahan Sosial
Erick Thohir, selaku anggota Board FIBA, memberikan dukungan penuh terhadap kolaborasi ini. Ia menyatakan bahwa program tersebut sangat selaras dengan arah Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang tengah dijalankan pemerintah.
Erick meyakini bahwa olahraga merupakan instrumen yang ampuh untuk menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Program ini juga membuka pintu bagi anak-anak di daerah untuk mendapatkan akses olahraga yang lebih berkualitas.
Senada dengan hal tersebut, Alaa Shaaban dari PT Nestlé Indonesia menilai olahraga adalah sarana belajar terbaik bagi anak. Kolaborasi ini bertujuan untuk menghadirkan dampak holistik yang lebih luas bagi perkembangan generasi penerus bangsa.
Rekam Jejak Keberhasilan Program
Sebelum melakukan ekspansi besar-besaran tahun ini, FIBA telah lebih dulu melaksanakan program serupa di beberapa kota lain. Pengalaman tersebut menjadi pondasi kuat untuk memperluas jangkauan program pada periode 2026 ini.
Berikut adalah pencapaian program pada tahap sebelumnya di sejumlah wilayah:
| Indikator Capaian | Jumlah Total |
|---|---|
| Jumlah Sekolah yang Terlibat | 58 Sekolah |
| Guru yang Mendapat Pelatihan | 117 Orang |
| Siswa yang Mengikuti Program | 1.770 Siswa |
| Wilayah Jangkauan Awal | Timika, Mataram, Kulon Progo, Sumbawa Barat, Ambon |
Data di atas menunjukkan keberhasilan awal yang telah dirasakan oleh para siswa dan tenaga pendidik di berbagai daerah. Kesuksesan inilah yang mendorong FIBA untuk terus meningkatkan skala program di Indonesia.
Melalui langkah nyata ini, FIBA mempertegas posisinya bukan hanya sebagai pengatur kompetisi basket dunia. Lebih dari itu, mereka berperan aktif sebagai penggerak perubahan sosial melalui nilai-nilai positif yang terkandung dalam olahraga.