Legenda basket Indonesia, Mario Wuysang, memberikan apresiasi tinggi terhadap perkembangan kompetisi Indonesia Basketball League (IBL) saat ini. Namun di balik pujian tersebut, terselip rasa iri karena ia tidak sempat mencicipi perubahan regulasi yang kini diterapkan.
Mario yang telah pensiun sejak 2018 mengakui bahwa format liga sekarang jauh lebih menarik dibandingkan masa jayanya. Fokus utama yang menjadi perhatiannya adalah sistem pertandingan kandang dan tandang (home-away) yang sudah berjalan selama tiga musim terakhir.
Daya Tarik Sistem Kandang dan Tandang
Menurut Mario, format kandang-tandang memberikan pengalaman yang jauh lebih emosional bagi para penggemar. Penonton kini memiliki kesempatan lebih besar untuk mendukung tim kebanggaan mereka langsung di kota masing-masing.
Ia menilai sistem ini mampu menciptakan atmosfer pertandingan yang lebih hidup dan kompetitif. Hal ini sangat berbeda dengan sistem seri di lokasi netral yang dulu ia jalani selama belasan tahun berkarier.
Beberapa faktor yang membuat Mario Wuysang lebih menyukai format IBL saat ini antara lain:
- Kedekatan tim dengan basis penggemar di kota asal masing-masing.
- Atmosfer pertandingan yang lebih intim dan penuh tekanan bagi tim tamu.
- Peningkatan kualitas fasilitas olahraga karena setiap klub wajib memiliki markas yang layak.
- Gairah ekonomi dan hiburan yang lebih merata di berbagai daerah Indonesia.
Poin-poin tersebut menunjukkan betapa format kompetisi modern telah mengubah wajah basket profesional di tanah air menjadi lebih industri.
Kenangan Atmosfer Basket Masa Lalu
Mario mengenang kembali pengalamannya saat masih aktif bermain sejak tahun 2003. Ia menyebutkan bahwa kota-kota seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Solo selalu memiliki antusiasme yang luar biasa.
Bahkan, ia menceritakan betapa sulitnya pemain untuk turun dari bus tim karena padatnya kerumunan penggemar yang menyambut. Dengan basis massa yang besar, sistem kandang-tandang dianggap sebagai langkah yang sudah seharusnya dilakukan sejak dulu.
Dalam diskusinya bersama pemain Kesatria Bengawan Solo (KBS), Avan Seputra, Mario menyoroti potensi besar klub tersebut. Ia meyakini Solo bisa menjadi salah satu markas paling angker bagi lawan karena fanatisme basket masyarakatnya yang sangat tinggi.
Seiring dengan penerapan format baru ini, pihak klub juga dituntut untuk terus berbenah secara profesional. Berikut adalah beberapa detail perubahan yang terjadi pada struktur kompetisi IBL terbaru.
Tabel Ringkasan Perubahan Format IBL:
| Aspek Kompetisi | Format Lama (Era Mario Wuysang) | Format IBL Terbaru |
|---|---|---|
| Sistem Musim Reguler | Sistem Seri (Lokasi Netral) | Kandang & Tandang (Home-Away) |
| Jumlah Pertandingan Playoff | Best of Three (Maks. 3 Laga) | Best of Five (Maks. 5 Laga) |
| Fokus Klub | Mobilisasi Antar Kota Seri | Pengelolaan Venue & Basis Fan lokal |
Perubahan format pertandingan pada babak semifinal dan final menjadi sistem best of five juga diharapkan menambah daya tarik bagi pemirsa. Langkah ini diambil agar persaingan memperebutkan gelar juara menjadi lebih panjang dan dramatis bagi setiap klub yang bertanding.
Mario Wuysang sendiri memiliki rekam jejak panjang di kancah basket nasional dengan membela tim besar seperti Aspac Jakarta, Satria Muda, hingga CLS Knights. Meski kini lebih banyak menghabiskan waktu di Amerika Serikat, ia tetap memantau pertumbuhan basket Indonesia dari jauh.